PPI MALAYSIA

Iman dan Kedamaian Sosial sebagai Tolak Ukur Keislaman

Published by Kajian Strategis PPI Malaysia on

Taufik Surrahman (Koordinator Penelitian dan Kajian Strategis)

tsurrahman@gmail.com

Islam sebagai agama paripurna menjadi solusi terhadap rapuhnya nilai-nilai sosial yang tengah mengantam masyrakat. Nilai-nilai sosial yang baik kian terkikis sehingga berdampak serius pada regenerasi dan stabilisasi dalam benegara. Kualitas pembangunan jiwa manusia yang buruk memberikan efek negatif yang amat besar dalam bermasyrakat dan bernegara sehingga kita menyaksikan pejabat-pejabat yang korupsi, kekerasan yang tidak terkendalai, amarah yang berapi-api, rasa hasad yang meyelimuti, rasa dengki yang menghayutkan, dan hilangnya rasa kemanusiaanmenjadi contoh fakta akan buruknya kulitas pembangunan jiwa. Ibadah dalam islam sejatinya bertujuan untuk takwinul insanul kamilyaitu membentuk pribadi yang paripurna. Pribadi yang paripurna dalam terminologi islam adalah pribadi yang mampu mensinergikan dengan baik dua hubungan dalam jiwa ini, yaitu hubungan ilahiyahdan hubungan insaniyah. Hubungan ilahiyahatau hubungan yang baik dengan Allah akan melahirkan keteguhan jiwa, kestabilan dan kematangan emosional serta kebijaksanaan yang akan bertransformasi ke dalam aplikasi nilai-nilai yang baik dalam bermasyrakat. Dengan kata lain hubungan ilahiyahini merupakan faktor internal yang paling utama dalam pembangunan jiwa atau pembentukan manusia paripurna. Maka sangat wajar ketika Rasulullah berada di Madinah selama lima belas tahun fokus berdakwah pada pemantapan jiwa, stabilisasi emosi dan perbaikan akhlak yang berdasarkan iman. Selanjutnya hubungan insaniyahatau hubungan sosial ini akan melahirkan kenyamanan dan ketentraman bagi masyrakat dan alam sekitar karena yang dikatan orang islam oleh Rasulullah adalah orang yang orang mampu memberikan keselamatan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

Orang yang islam itu adalah orang-orang yang mampu menyelamatkan kaum muslimin  dari keburukan lisan dan tangannya, dan orang-orang yang berhijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. (HR. Bukhari dan Muslim). 

     Hadist ini merupakan nilai sejati dari islam dalam aspek insaniyahatau sosial, sekaligus tolak ukur kualitas keislaman seorang muslim. Dalam hadist ini tolak ukur keislaman adalah salam yang memiliki makna damai, selamat dan tentram. Selamat dari apa ?selamat dari  dua sember keburukan yaitu lisanihi wa yadihiyaitu selamat dari keburukan lisan atau ucapan dan keburukan tangan. Dalam hadist ini disebutkan selamat dari dua sumber keburukan, dan tidak menyebutkan selamat dari jenis keburukan yang mana hal ini memberikan implikasi makna bahwa penanganan kejahatan dan semua jenis keburukan harus dibasmi dari sumbernya, dan sumbernya itu adalah lisan dan tangan. Kenapa harus selamat dari keburukan lisan dan Tangan ?.


Bahaya Lisan

     Hadist ini merupakan nilai sejati dari islam dalam aspek insaniyahatau sosial, sekaligus tolak ukur kualitas keislaman seorang muslim. Dalam hadist ini tolak ukur keislaman adalah salam yang memiliki makna damai, selamat dan tentram. Selamat dari apa ?selamat dari  dua sember keburukan yaitu lisanihi wa yadihiyaitu selamat dari keburukan lisan atau ucapan dan keburukan tangan. Dalam hadist ini disebutkan selamat dari dua sumber keburukan, dan tidak menyebutkan selamat dari jenis keburukan yang mana hal ini memberikan implikasi makna bahwa penanganan kejahatan dan semua jenis keburukan harus dibasmi dari sumbernya, dan sumbernya itu adalah lisan dan tangan. Kenapa harus selamat dari keburukan lisan dan Tangan ?

     Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. QS. Al Hujaraat Ayat 12). 


Bahaya Tangan 

     Tangan dalam al quran dan hadist sering dimaknai dengan kekuasaan dan perbuatan, dengan demikian selain selamat dari bahaya lisan, seorang muslim harus memberikan keselmatan muslim yang lainnya dari bahaya perbuatan dan bahaya kekuasaan jikalau menjadi pemimpin. Apabila kita uma islam mampu menahan lisan dan tangan kita dari hal-hal yang buruk maka akan tercapai kedamaian, ketentraman dan kenyamanan.  Sehingga kita tidak mendengar lagi ada bom bunuh diri sebagaimana yang kita rasakan sekarang, kita tidak akan mendengar lagi peperangan dankonflik sebagaimana yang masih terjadi di banyak negara. Pencurian dan perampokan bisa teratasi dantidak akan ada kemaksiatan yang mendatangkan murka Alla Ta’ala. Maka akan tercipta baldatun thayibatul wa rabbun ghafur. 

     Manusia paripurna akan terbentuk apabila terkombinasi dengan baik antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia, sebab itu ibadah dalam islam selalu terkait dengan perbaikan jiwa yang bermuara kepada hubungan Vertikal kepada Allah dan terkait dengan hubungan horizontal kepada sesama manusia ataupun sosial. Pembangunan jiwa yang melahirkan keteguhan hati, kestabilan dan kematangan emosional serta kebijaksanaan merupakan hal yang paling utama dalam islam yang terbingkai dalam iman. Iman merupakan pondasi utama dalam pembinaan dan pembangunan manusia yang paripurna, lebih dari itu iman bagi seorang muslim adalah the main control of activities baik aktifitas lisan, tangan atau perbuatan dan bahkan aktifitas hati, sebab itu ulama mendifiniskan iman itu dengan mengatakan’ pembenaran dalam hati, pengucapan melalui lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Tiga dimensi pembenaran ini dapat diterjemahkan sebagai komitmen yang menjadi landasan dan pengontrol dalam segala aktifitas setiap muslim baik tindakan, ucapaan ataupun aktifitas hati yang berupa dugaan dan prasangka.  Orang-orang yang menjadikan iman sebagian landasan dan pengontrol inilah yang diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjadi manusia yang paripurna dengan diberikannya mereka latihan-latihan pengolahan jiwa,pematangan dan penstabilan emosional dan ruhani yang kita sebut sebagai ibadah, sebagai mana Rasulullah contohkan dengan segala keagaungan akhlaknya sehingga mampu merubah tatanan sosial bangsa arab yang jahiliah menjadi masyrakat madani. 

Categories: Kastrat

1 Comment

Imam · 15 April, 2020 at 4:37 AM

Islam aplikatif-pilantrofis

Leave a Reply