PPI MALAYSIA

Menjadi Garda Terdepan: Mengambil Peran atau Tergantikan?

Published by malaysiaadmin on

Oleh: Rakhmania

A.   Pendahuluan

Saat ini dunia sedang berjalan memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 sarat akan istilah seperti, big data, artificial intelligent (AI), internet of things (IoT) dan yang sejenisnya. Jika kita telusuri kembali, bagaimana RI berproses dimulai dari RI 1.0 yang disebut sebagai penggunaan sumber daya panas atau acapkali dikenal dengan steam power. Era ini terjadi sekitar tahun 1760-an, dimana pemberdayaan mesin menggantikan pekerjaan secara manual. Lalu kita berjalan menuju tahun 1860-an, dimana listrik menjadi trend dalam industri. Saat itu, kita menyebut nya RI 2.0. Mass production atau produksi secara massal menjadi prinsip dasarnya. Bahkan kini, beberapa Negara masih menggunakan prinsip tersebut. Pada RI 3.0 pula, melalui perjalan sejarah yang panjang tahun 1940-an, teknologi informasi mulai di gunakan dan menjamur di seluruh dunia. Masyarakat di berbagai penjuru dunia bisa saling berkomunikasi melalui teknologi informasi. Lalu bagaimana keadaan pada industri? Berlomba-lomba untuk produksi automatis.

Revolusi industri 4.0 disebut sebagai smart factory atau industri “pintar”. Era ini dimulai pada abad 21-an. Ya, kita memasuki era tersebut. Negara maju, mereka sedang mempersiapkan untuk fase selanjutnya yaitu RI 5.0. Terfokus pada RI 4.0, banyak sekali tantangan dan masalah baru yang akan datang. Tantangan, bagi yang tidak mempersiapkan. Masalah, bagi yang tidak menyadari bahwa RI sudah datang di depan mata. Di sisi lain, ada peran yang bisa di lakukan ibarat kata berusaha bercocok tanam strawberry di Negara tropis. Apakah mungkin?

Artikel ini bertujuan untuk menelusuri bersama tantangan dan masalah yang di hadapi Negara berkembang khususnya Indonesia. Lebih kepada kesadaran kita akan RI 4.0, terutama bagi para Mahasiswa, sebagai agen prubahan sebuah peradaban.. Yang terakhir khususnya bagi Mahasiswa, apa peran yang bisa kita lakukan dimulai dari sekarang, selain “membuka mata” pada era RI 4.0 ini.

B.   Isi

  1. Permasalahan Revolusi Industri 4.0

Berbagai permasalah yang di hadapi pada era RI 4.0 dipicu oleh ke-tidak-siap-an dalam menghadapi RI 4.0 tersebut. Sedangkan ukuran kata “siap” itu tidak ada yang standar, beda perspektif dan konteks. Diantara permasalahan yang akan timbul ialah, meningkatnya pengangguran melalui “seleksi industri”. Please say welcome to Jobless!. Tentu, jangan sampai ini terjadi dan angka pengangguran meningkat. Pada dasarnya, manusia berkompetisi satu sama lain. Sedangkan dengan kehadiran industri pintar ini, tentu kita juga akan bersaing dengan “mesin pintar” itu. Sehingga angka persaingan menjadi 2:1. Angka dua untuk mesin pintar dan manusia, sedangkan angka satu untuk manusia lainnya. Bagi yang tidak memiliki kualitas keahlian yang signifikan maka akan tergantikan oleh pesaingnya.

Masalah lain yang timbul adalah mengenai produk elektronik yang digunakan seperti IoT, robotics dan AI. Kenapa? Dampak yang timbulkan menurut pendapat penulis ialah tentang manajemen sampah. Kemana sampah elektronik ini akan pergi? Jika suatu saat era RI akan berubah lagi. Sedangkan, upaya penguraian sampah-sampah elektronik belum terlalu signifikan. Hal-hal seperti ini yang perlu di pikirkan dan di ambil tindakan secara kritis. Mari kita renungi bersama.

  • Tantangan Revolusi Industri 4.0

Sungguh, dalam suatu perubahan hal yang besar akan ada tantangan yang besar pula. Rendahnya kualitas inovasi sebagai salah satu hal yang menjadi tantangan dalam RI 4.0. Inovasi termasuk hasil riset dan hak paten yang masih sulit untuk di jangkau. Penyebabnya datang dari berbagai faktor. Bicara mengenai inovasi, kebanyakan Negara berkembang menjadi loyal customer atau target pemasaran yang cukup “lezat”. Biasanya, customer acapkali kurang memikirkan inovasi atau memproduksi sendiri ide-ide baru. Padahal, sumber daya alam sudah cukup tersedia.

Kualitas pendidikan juga menjadi tantangan, bagaimana mendidik para murid untuk sadar dengan RI 4.0. Tak hanya murid, masyarakat juga perlu di didik. Apalagi bangsa Indonesia yang segi demografi dan geografi nya saja sudah cukup berat untuk di bayangkan. Investasi besar-

besar-an keuangan juga menjadi tantangan. Hal-hal mengenai RI 4.0 perlu modal yang besar. Itu berarti, otomatis mengalir ke sistem politik dan kekuasaan pemerintah. Ini juga menyangkut ketidak-stabilan ekonomi dalam Negara. Bagi Negara berkembang, ekonomi menjadi faktor yang sangat mempengaruhi etos kerja masyarakat dan cara pandang mereka menghadapi era RI 4.0.

  • Peran Mahasiswa dalam Revolusi Industri 4.0

Mahasiswa sebagai agen perubahan sebuah peradaban, bergerak atau tergantikan. Sesuai dengan persaingan yang kompetitif 2:1, mahasiswa memiliki setidaknya 50% modal untuk bersaing lebih ketat. Mahasiswa lebih banyak mendapatkan kesempatan karena menjadi garda terdepan di bidang keilmuan. Dimulai dari meningkatkan kesadaran akan pentingnya membangun bangsa sendiri. Memikirkan masyarakat, memikirkan dunia, memikirkan yang tidak hanya sekedar memikirkan tapi perlu adanya aksi dan reaksi. Bagaikan hukum fisika, maka kesinambungan itu akan terjadi. Menjalani pendidikan tak hanya sekedar money dan akan mendapat kan glory. Revolusi industri lebih dari sekedar itu. Bahkan ilmuan-ilmuan besar pada zamannya, mendapatkan hipotesis keilmuan karna ada kesusahan pada rakyatnya.

Peran mahasiswa dalam bidang penelitian, sangat krusial. Bahwa, etika menjadi yang utama. Etika, menjaga originalitas sebuah penelitian. Ini untuk kepentingan masyarakat banyak. Etika, jauhi mencontek. Karna mencontek tidak lebih kurang sama dengan korupsi, mengambil yang bukan hak-nya. Ada banyak bidang keilmuan yang bisa di jadikan “senjata” di garda terdepan peradaban untuk menaklukkan RI 4.0. Deep learning, Engineering, Natural Science, Computer Science dan yang lainnya, yang kesemuanya itu akan berkontribusi terhadap masyarakat secara tidak langsung dan kesinambungan dengan secara industri secara langsung.

Mahasiswa juga menjadi role model dalam pembinaan masyarakat. Menggiatkan tak hanya masalah produksi juga masalah akhir dari produksi, yaitu manajemen sampah. Sebagai orang yang terpelajar, Mahasiswa harus tau, sadar dan mengambil peran tentang sampah. Termsuk menjadikan topik ini sebagai sebuah riset. Sampah elektronik yang semakin lama akan meningkat jumlahnya. Memang, ada sistem open landfill, tapi apa yang terjadi setelah itu? Masalah-masalah lain juga akan timbul. Seperti pencemaran tanah dan sumber air. Yang nantinya, akan keteteran mengurusnya. Siapa yang kena imbasnya? Kita.

Dalam riset, tujuan menjadi hal yang sangat krusial. Dengan hipothesis yang ada, lalu pengambilan data. Ini berkontribusi untuk industri, bekerjasama dalam penyelesaian masalah sampah. Setiap agen sosial membawa perannya masing-masing. Mahasiswa memberikan kinerja di garda penelitian, industri menyambut “gayung” keilmuan, masyarakat membuka “mata” dan “pikiran”. Menjawab pertanyaan tentang strawberry di bagian pendahuluan, bahwa memang tidak mungkin menanamnya di daerah tropis. Alternatif lain, impor saja. Ada cara pandang lain. Dengan terus berinovasi, menggunakan kultur tisu misalnya. Maka, riset dan penelitian terus berjalan. Inovasi terus menghasilkan sesuatu yang signifikan. Baiklah, kita tidak membahas masalah strawberry secara mendalam, tapi intinya kontribusi penelitian mahasiswa mempunyai andil besar dalam peran nya di era RI 4.0 ini.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja para Mahasiswa di antaranya faktor internal; belum adanya kesadaran untuk kontribusi kepada bangsa. Faktor external; kurangnya dukungan finansial dan fasilitas penelitian, kurangnya dukungan dari sistem pendidikan yang tersedia, tekanan sosial dan lainnya. Faktor-faktor ini, ialah :bumbu-bumbu” yang harus di hadapi saat menjadi agen perubahan peradaban.

Bahwa, peran ini tidak hanya di garda terdepan, namun lorong belakang revolusi ini, juga ada “tentara” (Re: mahasiswa). Bahwa, bukan saatnya lagi kita yang duduk diam dan tetap di posisi, namun siapa yang tidak mengambil peran, maka dia akan tergantikan. Karena persaingan kini menjadi dua banding satu.

C.   Penutup

Kesimpulan dari artikel ini, revolusi industri 4.0 sudah datang dan berjalan. Banyak masalah dan tantangan yang akan di hadapi. Namun disisi lain, ada tindakan yang bisa  dilakukan oleh kita terutama Mahasiswa yang menjadi agen perubahan sebuah peradaban, khusunya di bidang lingkungan. Artikel ini menggaris bawahi bahwa, persaingan di era RI 4.0 menjadi 2:1. Karena persaingan bukan lagi sesama manusia, namun ada personil baru yang datang yaitu “mesin pintar”. Jika tidak membuka mata dan mengambil peran dari sekarang, maka akan tergantikan.

Referensi

  1. Artikel: What’s Wrong with Industry 4.0 – and How to Fix It!. Amira Boutouchent. 10 Juli 2018.

https://fi.co/insight/what-s-wrong-with-industry-4-0-and-how-to-fix-it

  • Artikel: Opinion: Will Industry 4.0 be an opportunity for developing countries to catch up?. Arison Tamfu. 28 Juli 2018.

https://news.cgtn.com/news/3d3d514f7941544d79457a6333566d54/share_p.html

  • Artikel: 3 Challenges of Industry 4.0 and How to Address Them. Erin Anderson. 12 September 2017.

https://www.secmatters.com/blog/3-challenges-of-industry-4.0-and-how-to-address-them

  • Jurnal: Industry 4.0 – A Glimpse. Saurabh Vaidya, Prashant Ambad dan Santosh Bhosle. Volume 20 (2018) Hal. 233-238. Procedia Manufacturing.
Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply