PPI MALAYSIA

MENELISIK NAKBA: MERDEKA BAGI MEREKA, DERITA BAGI PALESTINA

Published by Divisi Komunikasi dan Informasi on

MANSURNI ABADI ( ANGGOTA PENKASTRAT PPIM)

The story of what was there,before the stone house fell,mortar blasted loose,rocks carted away for new purposes, or smashed, and my  land declared clean, empty’ ( Puisi  dari Lisa Suhair Majaj,dalam  Fifty Years On the Stones in an Unfinished Wall ).

Tidak lengkap rasanya kalau kita membahas konflik Israel dan Palestina tanpa menelisik sejarah awalnya yang tak terlepas dari  tanggal 15 mei 1948. Saat itu, David Ben Gurion memproklamasikan  kemerdekaan Israel diatas tanah Palestina. Bagi orang Palestina disetiap  tanggal itu mereka  peringati sebagai nakba (bencana) karena di hari itu dan sesudahnya mereka menjadi stateless (hidup tanpa negara) sampai dengan hari ini.

Ironisnya, perjuangan mereka mendapatkan keadilan masih belum menemui titik terang. Dunia seakan-akan diam selama 75 tahun terhadap tragedi tersebut. Tentu menjadi pertanyaan besar  jika mereka bisa bersuara terhadap holocaust, tapi kenapa tidak terhadap nakba ?  

Nakba kemudian menjadi memori kolektif bagi orang Palestina yang masuk kedalam jiwa mereka  menjadi  semangat perjuangan dan identitias kolektif yang oleh  Pierre Noura (1996) seorang pakar teori memori asal prancis disebut ‘site of memory’ (lieux de mémoire) — tempat dimana  traumatis, kemarahan, dan penghinaan menjadi satu dan sudah menjadi “Choosen trauma” meminjam istilah dari psikologis sosial, Vamix Volcan yang membentuk perasaan sebagai korban yang ingin menuntut balas dari generasi ke generasi.

Tahun ini, peringatan nakba ke 75 dirayakan dibawah gempuran artileri dan kepungan pandemi, namun nakba tetap membawa semangat juang yang tiada akhir untuk terus melawan penindasan. Hal ini selaras dengan  pendapat dari Allan Megill (2008: 40-42), ketika kita menghadapi krisis secara kolektif, kita akan  mengingat kembali masa lalu kita  dengan intensitas yang diperkuat, sehingga meningkatkan daya ingat sekaligus daya juang.

Tentunya kita yang bersimpati terhadap palestina perlu mengingat  nakba sebagai bagian solidaritas kita terhadap perjuangan Palestina, karena sejarahwan mereka sendiri, yaitu elias sanbar (2011) dalam essaynya ‘out of time, out of the place’ ,menuliskan jika nakba bukan hanya seputar pengusiran tapi juga penghapusan secara sistematis peradaban palestina  lewat terror baik yang dilakukan kelompok militan yahudi seperti irgun,levi, dan haganah maupun entitas negara Israel dan sekutunya.

Bahkan Edward Said, dalam bukunya culture and resistance membenarkan jika telah terjadi pelenyapan dalam waktu yang singkat terhadap Palestina selama proses pembentukan negara itu, baik dari peta maupun sejarah dunia  dan rakyat Palestina kemudian  menjadi  asing di tanahnya sendiri. Oleh karena itu, menjadi wajar jika sampai hari ini rakyat Palestina melawan Israel yang mengasingkannya dari tanahnya sendiri.

Dari Zionisme Menuju Aliyah

Sebelum terjadinya nakba, fakta sejarah telah membuktikan jika Israel terbentuk dari gelombang imigrasi yahudi asal eropa yang telah berlangsung sejak tahun 1880, dan ditingkatkan intensitasnya lewat program bernama Aliyah  seiring dengan terbentuknya organisasi zionis internasional pada tahun 1897.

Arus imigrasi ini bukan hanya dipengaruhi faktor agama tapi juga faktor sosial dan politik Eropa kala itu yang penuh dengan gelombang anti yahudi. Apalagi sejak eksekusi Alfred Dreyfus di Prancis yang menyulut gelombang anti yahudi di Eropa Barat  dan peristiwa pogroms di Rusia pada tahun 1881-1882 (John Doyle, 2011) yang membuat banyak kaum yahudi  di wilayah Eropa Timur terbunuh, membuat kaum yahudi yang tersisa merasa tidak aman untuk tinggal di Eropa, Maka muncullah keinginan diantara mereka untuk membentuk negara yahudi dari sinilah kemudian lahir ideologi zionisme.

Zionisme sendiri adalah ideologi keagamaan bercampur nasionalisme kesukuan di kalangan orang yahudi untuk kembali ke tanah yang dijanjikan (erezt Israel)dan mendirikan negara bernama Israel disana, demi menggenapi nubuatan tanakh (kitab suci yahudi).

Gagasan ini kemudian di koordinir oleh Theodore herzt, aktivis sekaligus jurnalis yahudi asal Austria melalui buku yang ditulisnya ditahun 1896 yang berjudul Der Judenstaat: Versuch einer modernen Lösung der Judenfrage (Negara Yahudi :Sebuah proposal untuk Solusi Modern Masalah Yahudi).

Dia menyerukan agar negara Yahudi didirikan di negara ‘belum berkembang’ di luar Eropa. Dari sini, sebenarnya terlihat herzt bertujuan untuk memanjangkan  sistem dominasi kolonial Barat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tetapi dengan pengaruh dari Zionis Rusia, Palestina dipilih oleh gerakan Zionis sebagai ‘tanah yang dijanjikan’ di dalam Tanakh (Al-kitab yahudi), tapi perlu di ingat tidak semua yahudi sepakat untuk kembali ke tanah palestina, kelompok ultra-orthodok sampai hari ini tetap menolak zionisme karena menurut mereka kembalinya orang yahudi ke tanah yerussalem hanya melalui kehendak tuhan bukan lewat manipulasi politik oleh karena itu banyak kita temui kelompok-kelompok yahudi seperti neutarai karta contohnya, yang menolak eksistensi negara Israel.

Hasil kongres pertama zionis di tahun 1897 ,salah satunya adalah  mendukung secara  massif  program Aliyah (pemulangan orang yahudi) ke Palestina demi mempercepat terciptanya negara Israel. Tujuan zionis tersebut  kemudian menemukan momentumnya ketika jatuhnya wilayah Palestina ke tangan Inggris pasca kekalahan Turki ottoman dalam perang dunia I, sang penguasa baru kemudian melegitimasi kemerdekaan yahudi  yang awalnya imigran itu melalui deklarasi balfour pada tanggal 2 november 1917, yang menurut banyak pihak perjanjian ini merupakan pengkhianatan terhadap dua perjanjian sebelumnya di tahun 1916 yaitu mcmohan-husen yang menjanjikan kemerdekaan Palestina ketangah orang arab dan  syces-picot yang menjanjikan Palestina dibawah pemerintahan internasional karena merupakan wilayah suci 3 agama (Deborah, 2011)

Anggapan Inggris memihak zionis pada ketika itu terlihat dari keterlibatan para perancang dan pendorong perjanjian itu seperti seperti chaim weizman, Nahum sokolow, Baron Lionel Walter Rothschil, dan David llyod George yang kesemuanya adalah bagian dari zionis .Hadirnya perjanjian ini kemudian membuka ruang yang  lebih besar terhadap terror yang dilakukan oleh kelompok militan yahudi terhadap arab, bahkan Inggris pada Pada 14 Februari 1947 akhirnya memutuskan untuk cuci tangan dan melimpahkan  masalah tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam catatan petinggi Inggris, bernama Ernes Bevin alasan penarikan Inggris itu karena orang Arab sama  seperti orang Yahudi, telah menolak untuk menerima proposal kompromi (Bandman,2011).

DATANG PBB, MUNCULLAH NAKBA

Sayangnya hadirnya PBB pada tahun 1947 , lewat  United Nations Special Committee on Palestine (UNSCOP), tidak banyak membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat arab selain terbaginya tanah mereka sebagai hasil perjanjian united national general assembly repetition plan 1947. Sementara di pihak Israel, perjanjian ini sangat menguntungkan mereka karena mendapatkan porsi lahan yang lebih besar.

Melihat ketidakadilan didepan mata mereka, masyarakat arab kemudian mengadakan serangkain protes damai hingga pemberontakan bersenjata terhadap basis-basis pendudukan yahudi zionis, awalnya perlawanan ini berhasil namun berubah total pada bulan April 1948.

Dimana saat itu   paramiliter zionis bernama haganah yang kelak menjadi IDF (Israel defence forces) berhasil membalikkan kondisi dengan merebut wilayah-wilayah arab bahkan yang dibawah perlindungan PBB termasuk kota yerussalem.

Mandat PBB yang akan berakhir pada tanggal 15 mei 1948, menjadi moment bagi Israel untuk kemudian memproklamasikan kemerdekaannya. Seketika itu juga Israel harus berperang dengan negara-negara Arab disekelilingnya, namun sayangnya perang itu  kemudian dimenangkan oleh Israel yang kemudian memaksa banyak warga Palestina harus pergi dari wilayahnya. Mereka yang tersisa kemudian menjadi  warga kelas dua di negara Israel dan harus hidup dibawah todongan senjata sampai dengan hari ini (Edward Said, 2011).

Meskipun dikemudian pihak Israel membantah telah mengusir rakyat palestina, namun sejarah berkata lain ada banyak pembantaian yang dilakukan oleh militan yahudi  di desa-desa masyarakat arab di sekitar tepi barat seperti seperti di Deir Yassin (1947), Majd Al Krum ( 1948), Abbas Siyeh (1948), Al-dawayiwa (1948),Tor Il Zagha (1948), dan  sekitarnya dan juga di Jalur Gaza lewat operasi yang mereka sebut sebagai operasi  aeriel bombardment (penyerangan menggunakan pesawat udara) ( Noam Chomsky, 2011).

Sebagai akibat dari Nakba,penduduk Palestina berkurang cukup drastis dan hanya sedikit yang bertahan di wilayah Palestina yang tersisa. Setelah 1948, orang-orang Palestina di dalam Israel pun  harus menjalani delapan belas tahun pemerintahan militer, yang membatasi pergerakan mereka, mengendalikan hampir setiap aspek kehidupan mereka dan bertindak sebagai alat untuk mengambil alih sebagian besar tanah mereka (Benziman dan Mansour 1992; Kretzmer 1987)/

Tentunya membahas nakba ini sangat kompleks bukan karena ketidakbenarannya tapi sedikitnya informasi tentangnya, karena sampai dengan hari ada upaya politicide ( pembunuhan secara politik ) segala kebenaran tentang nakba agar masyarakat dunia tidak tahu  jika israel didirikan di atas lading pembantaian (Noam Chomsky,2011).

Akhirul kalam,  sungguh ironis jika  imigran yang dulunya korban kini malah mengorbankan penduduk yang dahulu menerimanya dengan tangan terbuka, maka benarlah perkataan salah seorang intelektual yahudi sendiri, Baruch Kimmerling dalam bukunya Politicide: Sharon’s War against the Palestinians (2003) jika pendirian Israel sebenarnya membawa dosa yang amat sangat besar, sama seperti pendirian negara berbasis imigran lainnya yang memusnahkan penduduk aslinya. Namun, bedanya Israel tidak berhasil membantai keseluruhan penduduk aslinya seperti yang terjadi terhadap aborigin, indian, dan maori, tapi tetap penuh dengan dosa dan tidak sesuai dengan ajaran Taurat yang selama ini selalu mereka jadikan legitimasi.

Referensi

Catatan Ernest Bevin ke  Douglas Busk, “Conversation with the Iraqi Foreign Minister, 23 December 1947, dalam Buku When Will Britain Withdraw from Jerusalem (2011).

Chomsky, Noam (2011) The Fateful Triangle: The United States, Israel and the Palestinians (London and Sydney: Pluto Press).

Deborah 1. Gerner, One Land, Two Peoples: The Conflict Over Palestina (Westview Press, Inc.: Boulder, CO. 2011).

Doyle, John, Russians, Jews, and the Pogroms of 1881-1882 ( Pinguin inc, New York, 2011)

Kimmerling, Baruch (2011) Politicide: Ariel Sharon’s War Against the Palestinians (London and New York: Verso).

Lihat dalam Sunday Times, 15 June 1969; Washington Post, 16 June 1969.

Megill, Allan.2008. “History, Memory, Identity,” History of the Human Sciences 11, 37-62.

Sanbar, Elias (2011) Palestine 1948: L’Expulsion (Pinguin, Paris: Revue d’études palestiniennes).

Said, Edward dalam essay  in search of Palestine dalam buku The Question of Palestine (2011).

Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply