PPI MALAYSIA

Masalah Utama Pendidikan Adalah Sekolah?

Published by Kajian Strategis PPI Malaysia on

Rania Chairunnisa Qisti – PPI Malaysia

Jika melihat sistem pendidikan di Indonesia secara keseluruhan, jelas bahwasanya ada kecacatan dalam sistem pendidikan kita. Kecacatan yang dimana memberi dampak besar pada perkembangan anak-anak bangsa secara keseluruhan. Seringkali juga kita mencari titik utama permasalahan dalam sistem pendidikan kita, apakah dalam kurikulum yang tidak menyesuaikan murid, budaya baca yang terbelakang, sertifikasi guru yang tidak meningkatkan kinerja guru, kurangnya fasilitas perpustakaan yang layak, tingginya tingkat pengangguran, bahkan dari mereka yang telah tamat pendidikan SMK/SMA sampai bergelar sarjana. Sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah pun terasa sangat objektif dan terlalu fokus pada outcome yang diincar-incar semua orang – ijazah dan gelar, sehingga lupa akan makna sesungguhnya dari kata belajar itu sendiri. Yang dimana menghasilkan orang-orang bergelar master, doktor, dan bahkan profesor, yang menduduki sistem pemerintahan kita sekarang, namun dengan tingkatan korup yang tinggi atau bahkan lulusan sarjana yang pengangguran.

Jika kita lihat kembali pada faktor-faktor yang disebutkan di atas, semua faktor tersebut mempunyai kaitan yang kuat terhadap sekolah. Yang pada awalnya asumsi kita terhadap sekolah akan membuahkan pemuda yang terdidik, dan semakin lama seseorang bersekolah pasti makin baik karena semakin terdidik. Namun realitanya yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya. Berat untuk menyatakannya, namun pada realitanya memang sekolah justru bagian dari masalah pendidikan, bukan solusinya.

Jangan jauh-jauh membahas seluruh masyarakat, bagaimana dengan anda? Sebagai salah satu warga Indonesia yang sedang menempuh pendidikan tinggi, apa tujuan anda? Apakah anda menempuh pendidikan tinggi karena anda merasa anda harus melakukannya? Apakah anda memutuskan untuk melanjutkan studi karena sebuah tuntutan? Atau apakah anda termasuk orang yang melanjutkan studi karena anda benar-benar ingin belajar dan fokus pada bidang yang anda minati?

Jika anda termasuk yang melanjutkan studi tinggi karena anda benar-benar ingin belajar, bersenang hatilah. Anda sudah tahu tujuan anda dan anda bisa fokus pada bidang yang memang anda minati dan anda tidak semata-mata ingin mengejar sebuah gelar, ataupun nilai yang harus dicapai.  Namun sayangnya, tidak semua orang seperti anda. Banyak yang masih bingung mengapa ia memilih jurusan tertentu, dan bahkan banyak yang masih bingung akan tujuannya. Kita tidak pernah diajarkan oleh sekolah untuk menemukan passion kita masing-masing dan fokus terhadap apa yang kita minati. Aktivitas seperti berenang, fotografi, menulis essay, dan hal yang diluar akademik hanya dijadikan sebagai aktivitas ekstrakulikuler. Dan lagi-lagi, semasa kita berada dalam proses belajar, kita hanya dituntut untuk mencapai nilai yang tinggi dan mendapatkan gelar yang layak. Dan asumsi lebih kuat lagi adalah, menjadi dewasa berarti keluar dan menyelesaikan tingkat pendidikan sekolah lalu baru mencari pekerjaan. Model kehidupan seperti ini hanya cocok untuk anak orang kaya.

Lalu apa kesalahan terbesar dari sekolah dan sistem pendidikan di Indonesia? Yang saya cermati, kesalahan terbesar dari sekolah dan sistem pendidikan adalah disaat mereka menjadikan sekolah sebagai tempat satu-satunya untuk belajar, sehingga pemerintah mengeluarkan anggaran yang besar di sektor pendidikan dengan mendirikan banyak sekolah dengan harapan masyarakat akan semakin terdidik. Bahwa orang dengan gelar makin panjang berarti makin kompeten dan terdidik. Dan dari sinilah, anak yang tidak bersekolah dicap terbelakang, tidak terdidik dan kampungan, anak nelayan dan petani usia bersekolah tidak boleh membantu orang tuanya bekerja ke laut dan ke sawah karena bekerja dianggap bukan kegiatan belajar.

Padahal, jalur karir itu ada banyak, tidak semata-mata hanya pada jalur akademisi. Saya pernah belajar bahwa jalur karir itu setidaknya ada tiga, yaitu Akademisi, Profesional dan Entrepreneur. Jalur karir tersebut dapat ditempuh oleh passion orang masing-masing yang berbeda-beda. Jika ingin menempuh jalur professional, seperti fotografi dan seniman, apakah anda membutuhkan gelar yang tinggi? Hal inilah yang tidak kita dapat di sekolah. Dan ribuan hal lainnya yang berkaitan dengan kemampuan untuk hidup di masyarakat, juga tidak diajarkan di sekolah pada umumnya.

Dan pada zaman nenek moyang kita dahulu, saat dunia sebelum sekolah diciptakan, ruang belajar tidak dibatasi dan tidak disyaratkan harus mendapatkan ijazah. Seseorang bisa saja pergi ke sawah membantu ayahnya dan mempelajari proses perkembangan padi, seseorang juga bisa pergi ke bengkel terdekat dari rumahnya dan mempelajari tentang mesin yang ada, dan mereka bisa saja pergi ke perpustakaan untuk mempelajari lebih lanjut tentang apa yang diminati dan dipelajarinya. Belajar dan bekerja berjalan seiringan, karena belajar adalah bagian menyatu dari kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, perlu dinyatakan secara luas bahwa setiap warga dapat belajar tanpa harus bersekolah dan pendidikan dasar atau menengah yang bermutu seharusnya sudah cukup untuk bekal hidup yang sehat dan produktif.

Lalu dengan apa yang sudah dibahas diatas, apakah kita harus mengurangi intensitas belajar-mengajar di sekolah? Atau kita harus menyamakan kembali sistem pendidikan kita seperti pada zaman nenek moyang? Tentu saja tidak. Sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah harus bisa di modifikasi hingga dapat mengembalikan fitrah dan makna belajar yang sesungguhnya pada masyarakat. Sekolah-sekolah kita masih terlalu terfokus pada tujuan akademik di awal yang sudah disampaikan, dan hal ini menghasilkan para guru terlalu terfokuskan oleh metode pembelajaran daripada tujuan yang ingin dihasilkan dari pembelajaran tertentu, dan murid juga pada akhirnya terlalu terfokuskan oleh menghafal dan nilai yang harus dicapai, bukan kompetensi yang bisa dikuasai. Kita telah kehilangan makna dari pembelajaran sesungguhnya. Maka, kita butuh makna dan fitrah belajar itu kembali ada. Dan hal ini dapat dicapai dengan mengimplementasikan pendidikan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

Pembelajaran kontekstual adalah salah satu strategi mengajar dimana konsep yang sedang dipelajari diberikan dalam situasi nyata sehingga siswa memahami konsep tersebut dan melihat keterkaitannya dalam penggunaanyanya di kehidupan sehari-hari. (Hamruni, 2009: 172). Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka. Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam pembelajaran itu tidak hanya sekedar menghafal, tapi juga ada pemahaman. Model ini mengharuskan tiap kegiatan pembelajaran disertai dengan pemahaman agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna, juga memfokuskan perkembangan pada passion tiap individu sehingga mereka dapat berkompeten dalam bidangnya. Contoh pembelajaran ini ada banyak, seperti; pembelajaran berbasis masalah (case study)sampai bereksplorasi ke dunia luar dan mengaitkan hal-hal sekitar dengan materi yang diajarkan. Model pembelajaran ini bisa digunakan untuk membantu memperbaiki kecacatan sistem pendidikan kita, dengan mengembalikan ruh pada pembelajaran dan membebaskan ruang belajar pada semua anak di Indonesia.

Model pembelajaran kontekstual hanyalah satu dari banyak solusi lainnya untuk sistem pendidikan Indonesia yang lebih baik. Allahualam.

Referensi:   Fitrah Based Education by Harry Sentosa (Buku)

                   Konsep Dasar dan Implementasi Pembelajaran Kontekstual by Hamruni (Jurnal)

Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply