PPI MALAYSIA

KEBEBASAN AKADEMIK ITU SEBENARNNYA APA?

Published by Divisi Komunikasi dan Informasi on

Kebebasan Akademic
Illustrasi (Sumber: Super Radio)

Oleh: Mansurni Abadi (Ketua Divisi Intelektual PPI UKM Dan Anggota Penkastrat PPIM)

Pro dan kontra terhadap kritik yang di unggah oleh BEM Universitas Indonesia memantik satu wacana yang menurut saya menarik untuk kita bahas, sebagai knowledge seekers dan kita refleksikan yaitu tentang kebebasan akademik. Dalam setiap diskusi aktivisme, kita selalu meneriakkan kebebasan akademik sebagai basis pembelaan terhadap apa yang kita publikasikan.

Bagi saya dua kata ini menjadi semacam tameng yang harusnya kita dan juga anda sebagai akademisi baik yang berstatus mahasiswa maupun dosen seyogyanya miliki dan hidupkan ditengan situasi dimana pendidikan sekarang layaknya seperti pabrik, di seragamkan pola pikirnya, dikakukan kajiannya berdasarkan logika untung dan rugi yang sifatnya instan, ditentukan tujuan kedepannya berdasarkan standar –standar tertentu, dan bahkan makin disenjangkan pencapaian antara satu dan lainnya.

Disini, saya tidak tertarik untuk membahas apa itu kebebasan akademi berdasarkan satu definisi tunggal karena setiap kepala akan memiliki tafsirannya masing-masing terhadap apa dan bagaimana kebebasan akademik itu selayaknya berlaku. Tetapi kita hendaknya menyepakati istilah bebas dengan bijak, yaitu bebas dengan tidak meniadakan batasan yang telah kita sepakati bersama sebagai yang baik dan harus dipatuhi.

Tetapi bebas disini lebih dalam artian kita terlepas dari berbagai muslihat jahat ketika kita mengeluarkan ekspersi pendapat kita berdasarkan pengetahuan hasil daripada dialektika kita dan kita juga tidak di paksa secara halus untuk seragam dalam hal apapun yang terkait dengan pengetahuan akademis.

Saya jadi teringat dengan momentum ketika saya berdiskusi bersama para aktivis pro demokrasi di Thailand di tahun 2018, saat itu disebuah kafe kecil di area khao sam road yang penuh dengan gemerlap para turis menikmati malam, salah satu peserta diskusi membedah pemikiran Vaclav havel tentang akar dari kebebasan akademik yang akhir-akhir ini hilang dari arus wacana para intelektual.

Menurut pembacaannya terhadap vaclac havel yang kemudian saya baca beberapa bulan setelahnya setelah saya mendapatkan buku pertama yang ditulis oleh Ilmuwan sekalgus mantan presiden cekoslovakia ini di pasar buku bekas kuala lumpur yang berjudul Distruption of peace, disitu sang presiden mengatakan golongan intelektual telah lama tejebak pada mindset The power of the powerless (kuasa orang yang tidak punya kuasa), karena tidak yakin, rendah diri, dan tidak mau ambil bagian dalam mendidik publik apalagi berhadapan dengan sistem dominan secara akibat terlalu lama dijebak oleh kenyamanan dari keseragaman, yang diciptakan oleh sistem yang lebih besar daripada si penguasa itu sendiri.

Kita bisa menyebut sistem ini dengan istilah apa saja menurut kecurigaan maupun kajian kita, dan untuk lepas dari situasi seperti itu memang tidak mudah. Namun, menurut franz fanon penulis buku University Doctrine, jika ada Goodwill dari semua pihak baik di lingkungan akademis dan di luarnya untuk menciptakan kondisi kebebasan akademik yang tidak hanya diagnostik tapi juga sehat, maka kebebasan akademik akan tercapai meskipun secara bertahap.

Kembali lagi ke viralnya kritik BEM Universitas Indonesia yang menuai pro dan kontra tentang presiden yang mereka anggap sebagai lip service, boleh saja kita ada yang tidak bersepakat, saya pribadi pun ada ketidaksepakatan meskipun tidak seutuhnya terhadap mereka, tetapi mengacu pada perkataan Voltaire, untuk kita menjaga iklim kebebasan maka kita harus bersepakat dengan ketidaksepakatan dan membela ketidaksepakatan itu ketika di tindas dengan kejamnya selama ketidaksepakatan itu bukan dan tidak mencedarai nilai-nilai baik yang sudah kita sepakati bersama.

Jadi kemudian, apa yang bisa kita simpulkan dari kebebasan akademik itu? seperti saya tuliskan sebelumnya, perihal definisi biarlah itu hadir dikepala anda masing-masing yang bisa kita sepakati hanyalah indikatornya saja, yang jelas kebebasan akademik itu adalah saat dirayakannya perbedaan pemikiran, tidak menghagemoni informasi, menciptakan jaminan kemanan kepada pihak yang memiliki perbedaan dalam pandangan dan kajian, tidak merusak persatuan, dan tidak mengkakukan bahasan akademik sehingga berhenti pada “masturbasi intelektual” tapi turun hingga ke praktik, dan tidak terjebak pada nalar pengetahuan yang sifatnya untung rugi berdasarkan logika pasar dan kekuasaan .

Rasanya terlalu muluk-muluk untuk sampai kearah, minimal, kita bisa memulainya dengan mengembangkan budaya akademis yang objektif dengan tidak mudah menghakimi, meneror, apalagi kemudian memfitnah baik mereka yang pro maupun kontra terhadap kritik. Dan akhirul kalam, saya ingin mengutip tulisan dari bapak Carry nelson, penulis buku No university is an island, yang mengatakan ‘Academic freedom is the freedom to discuss all relevant matters in the classroom; to explore all avenues of scholarship, research, and creative expression; and to speak or write without institutional discipline or restraint on matters of public concern as well as on matters related to professional duties and the functioning of the University. Academic responsibility implies the faithful performance of professional duties and obligations, the recognition of the demands of the scholarly enterprise, and the candor to make it clear that, when one is speaking on matters of public interest, one is not speaking for the institution’.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply