PPI MALAYSIA

Berpikir Kritis dan Peran Intelektual Muda

Published by Ghozian Aulia Pradhana on

Ghozian Aulia Pradhana – Divisi Keintelektualan dan Penelitian PPI UM (zianpradhana@gmail.com)

Dapatkah kita mempertahankan kemandirian, keberanian untuk kritis, untuk tidak menggantungkan bendera pendapat untuk mengambil sikap yang no-primordial, non-sektarian, semata-mata berdasarkan kebenaran dan keadilan?”

Sejarah intelektual modern Indonesia dimulai ketika pemerintahan kolonial Hindia-Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak bangsawan dan birokrat pribumi. Sekolah-sekolah diadakan karena birokrasi semakin membutuhkan tenaga-tenaga terampil. Apakah ini bisa dibilang sebagai pisau bermata dua bagi pemerintah kolonial saat itu? Entahlah. Kaum pribumi yang bersekolah baik di dalam negeri maupun di Belanda, mengalami pencerahan. Mereka menjadi melek terhadap hantu imperialis-kolonialisme dan mendambakan negara-bangsa.

Elit pribumi terpelajar ini berperan besar dalam membumikan paham kebangsaan serta kemerdekaan negeri. Salah satu tokoh sentral di masa pergerakan nasional ini adalah Tan Malaka. Mereka ini merupakan intelektual aktivis, yaitu mereka yang terlibat dalam praxis bertujuan emansipatoris. Kaum intelektual juga sering kali menduduki pos-pos penting dalam birokrasi, dan hal ini terus berlanjut hingga sekarang.

Meskipun begitu, ada pergeseran makna dan peran intelektual antara dulu dan masa kini. Kita hidup dalam sebuah masyarakat, dan merupakan anggota sebuah kebangsaan dengan bahasa, tradisi, situasi sejarah tersendiri. Sejauh mana kita (kaum intelektual muda) telah menjadi pelayan dari semua aktualitas ini, sejauh mana pula menjadi musuhnya? Hal yang sama juga pada hubungan kaum intelektual dengan lembaga-lembaga (akademi, masjid, gereja, serikat profesional) dan dengan kekuatan dunia, yang pada masa kini telah mengkooptasi kaum intelegensia ke tingkat yang luar biasa.

Tugas dasar intelektual adalah mencari kebebasan relatif dari tekanan semacam itu. Karena itu adalah karakterisasi intelektual, sebagai amatir, sebagai pengarang sebuah bahasa yang mencoba membicarakan kebenaran pada kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah semua bentuk sistem yang membelenggu peran kaum intelektual. Mereka cenderung membungkam keagresifan berpikir kita, disebabkan ketakutan untuk bergejolak menuju hal yang lebih dinamis dari sebuah status quo.

Tanggung jawab intelektual

Intelektual adalah benteng akal sehat bagi lingkungan terdekat bahkan bagi sebuah bangsa. Namun sering kali intelektual muda seperti pelajar-pelajar di “perantauan”, nampaknya enggan menceburkan diri pada peran signifikan untuk berpikir kritis dalam bermasyarakat. Mereka asik dengan dunianya sendiri, mereka menikmati kenikmatan berproses hanya bagi dirinya sendiri, tanpa mengerti bahwa ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab moral bagi lingkungan terdekat kita juga bagi kesehatan akal kita. Bukan soal menimbun prestasi demi prestasi yang kita banggakan (kebanggan semu) lalu menyuguhkannya pada orang-orang di dunia maya. Sehingga kita lupa, ilmu pengetahuan dan keintelektualan kita sesungguhnya tak berarti apa-apa tanpa kontribusi nyata. Paling tidak melawan kemalasan berpikir kritis.

Menurut Chomsky, intelektual merupakan formasi khusus dalam masyarakat industri modern. Dalam tradisi Marxis-Leninis, mereka menjadi ‘pengawal’ yang merekonstruksi masyarakat atas nama kepentingan kaum proletar. Jelas bahwa mimpi utopis kaum intelektual khususnya intelektual muda, adalah sebagai mesin penggerak sistem sosial yang berpihak pada mereka serta membutuhkan kecerdikan kita. Realitanya, justru kita menggunakan ilmu pengetahuan sebagian besar untuk ‘mengawal’ diri kita dari rasa takut intimidasi sebuah sistem sosial. Kita juga seringkali takut bersikap terlalu kritis pada kekuasaan (di manapun kita berada), anggapan ini karena merasa kita hidup di negara-negara yang tidak mentolerir perbedaan pendapat. Negara barat melahirkan para intelektual yang kritis, memiliki kebebasan politik, akses informasi dan kebebasan berekspresi. Berbeda dengan kita di sini, mau bersikap kritis takut merusak keharmonisan pertemanan, grup Whatsapp, apalagi masyarakat dan kekuasaan.

Kita hendaknya bisa menjadikan persoalan ini sebagai cerminan untuk mematut diri yang mungkin belepotan. Perlu kita ketahui, potret intelektual muda di negeri ini (Indonesia) masih saja buram, kendati jumlah kaum terdidik menunjukan angka yang pesat dan semakin masif di jaman sekarang-era keterbukaan informasi dan akses pendidikan. Kurangnya kemandirian serta keberanian di tengah iklim yang mencekik kebebasan berekspresi, menjadi penyebab utamanya.

Akhir kata, kita para intelektual muda yang memiliki keistimewaan mengenyam pendidikan hingga di negeri orang. Dapatkah kita mempertahankan kemandirian, keberanian untuk kritis, untuk tidak menggantungkan bendera pendapat untuk mengambil sikap yang no-primordial, non-sektarian, semata-mata berdasarkan kebenaran dan keadilan? Sejauh mana loyalitas terhadap suatu cita-cita harus membuatnya secara konsisten setia kepadanya? Mari merenung dan berpikir.

Referensi:

  1. Massad, J. (2004). The intellectual life of Edward Said. Journal of Palestine Studies, 33(3), 7-22.
Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply