PPI MALAYSIA

Guru Sepanjang Masa

Published by Kajian Strategis PPI Malaysia on

GURU SEPANJANG MASA

Oleh: Ciptro Handrianto
Mahasiswa S3 Pedagogi, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia
(handriantociptro@gmail.com)


     Ada mata rantai yang terputus ketika berbicara kompetensi seorang guru pada zaman sekarang. Kemajuan informasi teknologi serta tuntutan ekonomi telah mendistorsi peran seorang guru. Guru telah berubah menjadi profesi yang menuntut profesionalitas tinggi, yang artinya lebih mengutamakan tanggung jawab sebagai sebuah pekerjaan. Sehingga filsafat dan jiwa pendidik tidak terlalu penting dikemukakan. Asal gaji besar dan ada jaminan di hari tua, orang berminat menjadi guru.

     Filsafat dan jiwa seorang guru adalah panggilan nurani untuk menjadi pendidik generasi. Guru semestinya memiliki kesadaran penuh bahwa tugas mereka bukan hanya sekedar mengajar, memindahkan ilmu pengetahuan, memberi contoh teladan, bahkan sebenarnya lebih dari pada itu. Guru harus memiliki rasa kasih yang mendalam kepada murid. Menyatukan keinginan dan tahap perkembangan murid dalam proses pembelajaran merupakan kompetensi minimal seorang guru.

      Teknik mengajar konvensional telah lama seharusnya ditinggalkan oleh guru. Teknik ini berbicara guru menjadi pusat segala hal, jika murid tidak sejalan dengan pemikiran guru hukuman dan lecutan masih saja hinggap. Namun yang paling parah dalam teknik seperti ini, guru terkesan acuh dengan murid, silahkan kalian berbuat sesukanya, yang penting gaji saya jalan terus.

     Ilmuan barat sangat gencar mengemukakan argumentasi dalam diskusi-diskusi mereka berlandaskan pada Teori Kompetensi Guru yang lebih dikenal dengan istilah Pedagogical Content Knowledge (PCK), dicetuskan oleh Shulman. Albert Bandura juga mencanangkan Theory of Teachers` Self Efficacy, yang membicarakan tentang sejauh mana kepercayaan diri guru (belief) dengan kemampuannya dalam mendidik. Penulis pada kesempatan kali ini lebih tertarik untuk menggali khazanah pengetahuan tentang ilmu guru dari sosok mutiara yang pernah dimiliki oleh Bangsa Indonesia, yaitu: Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).

     Buya Hamka (panggilan akrab Hamka) dalam bukunya, Kenang-Kenangan Hidup, yang pertama kali diterbitkan tahun 1966, menceritakan perasaan dan pengalaman beliau semasa belajar di sekolah rendah. Beliau memaparkan karakteristik guru yang beliau kagumi berdasarkan cara pendekatan pembelajaran yang diterapkannya. Berikut kutipan beliau dalam buku tersebut:

“Di antara banyak guru-guru, baik di ‘Sekolah Desa’ atau di ‘Sekolah Arab’, hanya seorang yang menarik hatinya. Kalau guru itu masuk kelas, terbuka fikirannya, dan fikiran teman-temannya. Dia ditakuti tapi dicintai. Dia tidak banyak melarang, tetapi menggembirakan pekerjaan murid-murid. Dia sahaja yang suka bercerita, terutama cerita Nabi Muhammad di waktu kecil. Tidak sekali juga dia menggunakan rotan, untuk ‘mengajar’ anak-anak. Ketika dia dalam kelas, seakan-akan diselaminya jiwa kanak-kanak itu. Dan semuanya menambah sayang murid-murid kepadanya. Sayang dia tidak senantiasa masuk ke dalam kelas. Lain halnya dengan guru-guru yang lain. Guru HajI Saleh di ‘Sekolah Arab’, hanya main rotan sahaja. Benci sahaja agaknya hatinya melihat anak-anak. Guru Sains di Sekolah Desa jadi kesukaannya memilin pusat. Sangat sakitnya, jika pusat yang dipilin!

“Barangkali baharu dia seorang guru yang dicintai itu, yang memulai mengajar dengan kaedah pendidikan. Lama sesudah dia meninggal bertemulah dalam kitab-kitabnya yang terkumpul, beberapa buku-buku tentang pendidikan, yang rupanya dipesannya sendiri dari Mesir. Guru itu ialah almarhum Zainuddin Labai El-Yunusy, yang mendirikan ‘Sekolah Diniyah’ di tahun 1916 itu.”

 

 

   Berdasarkan cerita dari Buya Hamka di atas, setidaknya ada beberapa karakter yang harus dimiliki oleh guru sepanjang masa. Karakter itu telah bertransformasi menjadi sebuah kompetensi mengajar, yang sukses diterapkan oleh Zainuddinn Lebay El-Yunusy. Beliau salah satu ulama pendobrak pendekatan pembelajaran dari konvensional ke modern. Maka sangat relevanlah kiranya nilai-nilai tersebut tetap dikembangkan pada zaman sekarang.

      Setidaknya ada enam kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh guru untuk mendidik generasi. Pertama, guru harus mampu membuka pikiran siswa. Guru bisa memberikan stimulus-stimulus yang mampu memancing respon murid dalam menggunakan nalarnya. Para murid lebih menikmati berpikir kritis dan diberi kebebasan dalam mengungkapkan pendapat di ruang kelas. Tentunya mereka akan mendasari ucapan yang terlontar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama ini.

      Kedua, guru mesti berwibawa. Wibawa seorang guru menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Selama ini wibawa cenderung diartikan tindakan keras dan tegas guru kepada murid. Padahal wibawa seorang guru terletak pada wawasan, penampilan, dan strategi pengajaran yang ia terapkan. Ia tidak perlu membawa rotan untuk menakut-nakuti murid, melainkan segudang ilmu dan pengalaman yang menarik, agar murid termotivasi untuk berprestasi. Guru seperti ini tentunya dirindukan sepanjang zaman.

      Ketiga, guru tidak boleh terlalu banyak melarang. Artinya suasana pengembangan nalar dengan trial dan error harus ditumbuhkembangkan oleh guru di dunia persekolahan. Biarkan murid menguji pendapat mereka terlebih dahulu, setelah itu mendorong mereka dalam memecahkan masalah. Anak yang sering mendapat larangan, mereka akan terkungkung dalam kebodohan, terbiasa dimanjakan, sehingga mereka akan canggung bermasyarakat nantinya.

      Keempat, senantiasa mengapresiasi pekerjaan murid. Setiap orang perlu pengakuan dan penghargaan, tidak terkecuali para murid. Salah besar jika seorang guru menilai murid mengacu pada standar kemampuan si guru tersebut. Sehingga banyak kita jumpai murid bersedih hati dan kecewa karena hasil kerjanya diabaikan oleh guru karena hasilnya tidak memuaskan. Murid adalah pucuk hijau yang sedang menuju mekar, cara merawatnya adalah disirami dengan air yang cukup, bukan membiarkannya layu karena kepanasan.

      Kelima, guru hendaklah seorang narator ulung. Dewasa ini guru-guru sudah jarang bercerita, alasannya takut menghabiskan waktu, dan tidak terkejar materi pelajaran pokok. Padahal cerita-cerita yang mengandung nilai moral sangat penting dalam membetuk kepribadian para murid. Jika guru bercerita dengan piawai maka semangat murid akan membara untuk berprestasi. Cerita itu akan senantiasa membekas dalam hati mereka sebagai bekal menghadapi kehidupan yang lebih luas.

        Keenam, guru mampu menguasai psikologis peserta didik. Peserta didik atau murid adalah manusia yang masih dalam tahap perkembangan jiwa. Kemampuan mereka tidak bisa dipaksakan untuk cepat dewasa, tapi bisa diarahkan menuju perkembangan yang sesuai. Guru harus mampu memperlakukan murid-murid dengan bakat, karakter, dan keterampilan yang berbeda. Sehingga murid bisa memandang sekolah sebagai tempat yang paling menyenangkan, karena guru memahami aspek psikologis mereka.

       Meskipun sudah lebih 100 tahun yang lalu Zainuddin Lebai El-Yunusy menerapkan hal yang demikian, hal itu masih relevan dengan kondisi dunia persekolahan saat ini. Sebagai guru, beliau selalu mengupdate dan mengupgrade pengetahuannya, dengan cara membeli buku-buku pendidikan dari Mesir, yang mungkin belum terpikir oleh guru-guru lain di zamannya. Ini sepatutnya menjadi pukulan telak bagi guru-guru dewasa ini, yang sebagian besar dari mereka masih kurang membaca buku, sibuk dengan rutinitas, tidak punya target yang jelas, dan terlena dengan posisi nyaman sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply