PPI MALAYSIA

Garis Tanggung Jawab Pemuda

Published by malaysiaadmin on

Mila Septian Haryati – 3 November 2020

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, di usia berapa garis tanggung jawab itu ada? Kapan kita harus mulai serius dengan dengan tanggung jawab?

Masa muda merupakan masa dimana kesempatan terbaik untuk membangun kapasitas diri. Momen ini merupakan masa dimana dalam diri pemuda memiliki banyak sekali energi dan kemampuan untuk berpikir lebih banyak dan berbuat lebih banyak untuk diri dan masa depan.

Namun seringkali, tidak sedikit dari orang-orang disekitar kita bahkan diri kita sendiri mengatakan bahwa “Maklum masih ABG, lagi seneng-senengnya main game,,nongkrong tengah malam sampe gak pulang,maklum masih adaptasi kuliah, maklum baru lulus sarjana”. Beberapa permakluman tersebut adalah  contoh kecil dari toleransi-toleransi yang sering sekali kita katakan dan berikan kepada diri kita dulu atau bahkan sekarang. Sebuah permakluman bagi diri yang membuat kita semakin mundur dan tertinggal. Padahal jika kita bertanya, kapan kita harus mulai serius mengelola kehidupan? Starting pointnya bukan setelah lulus sekolah (usia 16 atau 18 tahunan) atau setelah lulus sarjana (usia 20 atau 23 tahunan),  justru starting pointnya adalah saat kita memulai masa-masa muda kita.

Dalam Islam garis tanggung jawab itu bermula pada saat akil baligh (artinya usia 11,12, bahkan 13 tahun). Lebih lanjut dijelaskan oleh Al-Bustani (1982) bahwa  remaja atau pemuda ini diartikan sebagai peringkat umur manusia yang bermula dari akil baligh sehingga menjelang usia 30 an. Dalam Islam, usia muda tidak disebut remaja melainkan Syababatau fataa (Pemuda). Inilah rahasia mengapa Nabi Muhammad SAW merekrut anak-anak muda di awal-awal Islam, karena Nabi ingin membangun generasi pemimpin masa depan yang dimulai pembinaanya diawal masa muda mereka. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, pada usia 10 tahun sudah direkrut menjadi pejuang untuk memikul beban Islam,Zaid bin Tsabit ikut jihad pertama kali dalam Perang Khandak setelah ditolak penyertaannya dalam Perang Badar kerana usianya baru 12 tahun,Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun dan  menjadi panglima perang melawan salah satu pasukan Romawi dan menang. Aisyah menjadi guru besar bagi masyarakat muslim sepeninggalan Rasulullah SAW yang berlangsung selama 47 tahun, setelah membuktikan dirinya menjadi pelajar yang hebat pada usia 9-18 tahun. Itulah starting point hidup mereka, sebuah garis tanggung jawab.

Persepsi untuk hidup santai, tidak terburu-buru, masih banyak waktu oleh beberapa tokoh bijak adalah “sebuah jebakan setan” ini adalah jebakan penangguhan amal “nanti saja baru hidup serius setelah beres sekolah”, “nanti saja hidup serius setelah beres kuliah”, ”nanti saja hidup serius kalau sudah menikah”, “nanti saja hidup serius kalau nanti sudah punya anak”. Jika kita melewati waktu-waktu emas ini, fase-fase pemuda kita ini dengan santai, dengan leha-leha maka kesadaran untuk serius akan muncul saat nanti kita sedang ada masalah, ketika sudah tua (saat tenaga dan waktu tidak sebanyak ketika masih muda). Teringat pesan Sang tokoh, “Hidup hanya sekali. Jangan menua tanpa karya dan inspirasi”– Ridwan Kamil,

 “hidup hanya sekali, jangan berlalu tanpa amal dan perbaikan”

John Kennedy, salah seorang negarawan yang berasal dari Amerika memberikan komentar terkait krisis sikap para  remajanya. Ia mengatakan, “Andai mereka disuruh berperang, hanya satu dari tujuh pemuda yang berani  menghadapi musuh”. Berdasarkan Pernyataan tersebut, kita  dapat melihat, bahwa pemuda yang digambarkan oleh John Kennedy sudah kehilangan jati diri  sebagai  orang pemuda  yang  memiliki tanggung  jawab. Dalam  kasus ciri-ciri  pemuda  yang seperti demikian, Nabi pernah menyinggungnya bahwa‚ suatu saat umatnya akan cinta  terhadap  dunia dan  takut  terhadap mati‛. Arti kata mati sebenarnya  bukan  kehilangan nyawa  saja,  tetapi yang  dimaksud dengan mati disana juga bisa bermakna kehilangan rasa tanggung jawab  dan konsekuensinya  atas  apa yang  semestinya  menjadi kewajiban (Wani, 2019:89)

Febrianti Almeera seorang mentor yang menjadi penggerak #strongfromhome merumuskan sebuah pola bagi generasi muda. Pola tersebut disebut tri life angle: Allah-Me-Others.

Connected to Allah, sebuah pola hidup yang menjadikan orentasinya adalah untuk beramal dan beribadah (sebagaimana tujuan ia dihadirkan). Sikap hidup pada aspek ini melibatkan perjuangan bagi seorang hamba untuk menjadikan usahanya semata-mata untuk mengabdi padaNya. Sosok ini mengetahui arah tujuan hadirnya di bumi bukan candaan, tapi ada misi dibaliknya yakni ialah sebagai khalifah (sederhananya pelestari kebaikan). Terkoneksi selalu dengan Sang Pencipta adalah hal yang harus senantiasa dilatih dan diusahakan.

Connected to me, ini berkaitan dengan bagaimana seorang pemuda menggali potensi serta kapasitas dirinya. Terus meningkatkan kapabilitas dirinya. Bahkan dapat selesai dengan dirinya agar dapat membantu menyelesaikan sesuatu yang ada diluar dirinya. Aspek ini berfokus secara menyeluruh untuk bagaimana seseorang tersebut merencanakan dirinya agar bertumbuh, berdaya dan mendewasa.

Connected to the others. Dalam Islam manusia tidak hanya dikenali dengan hubungannya secara vertikal (bagaimana manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga terdapat hubungan secara horizontal (yakni manusia antar sesama manusia). Ini dilakukan dalam upaya melaksanakan perintah Allah tadi, bahwa hadirnya manusia adalah sebagai khalifah (sederhananya pelestari kebaikan).

Dengan demikian, ketiga aspek di atas adalah bagian penting bagi kita generasi muda dalam membangun semangat yang tinggi dalam belajar dan beramal, memberi kontribusi untuk agama, memberi manfaat kepada sesama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka untuk menjadi pemuda terbaik tentu tidak hanya bisa kita mengandalkan kecerdasan intelektual saja, perlu ada kecerdasan lainnya yang dapat menjadi pengikat kecerdasan intelektual tersebut. Dalam sebuah penelitian yang bertema pemuda, Misbahul Wani (2019) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual tidaklah cukup, diperlukan kecerdasan spiritual dan emosional sebagai penyeimbang   jiwa dan raga agar tercipta pemuda  yang cerdas, taat dan berdampak membawa agama dan bangsa bermartabat.

Oleh karena itu, meskipun PBB mengatakan bahwa pemuda itu adalah ia yang berumur 15-24 tahun, kemudian Undang-Undang di Indonesia (UU No 40 tahun 2009 pasal 1 angka 1)  menyebut usia pemuda  16-30 tahun. Bagaimanapun batasan usia bagi pemuda sebagaimana yang terdefinisi kemarin, hari ini, bahkan esok. Yang paling penting untuk kita sekarang adalah: saat ini, detik ini, adalah waktunya kita tidak hanya beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga mengakselerasi diri untuk terus menciptakan jejak-jejak kebermanfaatan yang berarti, dan terus menerus tumbuh dan berdaya. Starting point kita untuk berbuat lebih baik dan berarti tidak perlu menunggu nanti, tidak juga harus berkaitan dengan hal-hal besar. Kita bisa memulainya dari saat ini, dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Karena pada akhirnya, setiap manusia ada masa bertumbuhnya, maka mulailah menanam hal baik dalam diri dan lingkungan sekitar dengan segala upaya yang kita bisa. Karena logikanya, sesuatu yang tidak pernah ditanam tidak akan pernah tumbuh. Hanya yang menanamlah yang dapat menuai.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply