PPI MALAYSIA

Era Pasca Pandemi: Penguatan Nasionalisme vs Membangun Era Baru Kerja Sama Global

Published by malaysiaadmin on

Era Pasca Pandemi: Penguatan Nasionalisme vs Membangun Era Baru Kerja Sama Global

Hasbi Syuhada

University Utara Malaysia

     Sudah hampir 2 bulan dunia dirundung krisis multidimensi yang disebabkan oleh pandemic COVID-19. Melihat sekian banyak sector yang jatuh-bangun dalam mempertahankan eksistensinya, saya mengutip sebuah pernyataan yang sangat powerful dari Dr. Anthony Fauci, “You don’t make the timeline, the virus makes it”. Pernyataan itu tercerminkan dalam setiap keputusan yang diambil oleh pelaku bisnis hingga pemerintah. Semua dirundung ketidakpastian dan seakan-akan hanya dapat berharap bahwa setiap individu di muka bumi dapat bertindak secara kompak dan massif dalam memutus rantai penyebaran virus ini.

     Tulisan ini saya buat untuk menjabarkan analisa perilaku aktor politik global setelah pandemi ini berakhir. Berbicara tentang International Politics, tidak akan pernah terlepas dari dua teori, realisme dan liberalisme. Pendekatan negara-negara di seluruh dunia dalam menghadapi pandemi COVID-19 akan mencerminkan sejauh mana dua pendekatan tersebut memberikan dampak pada sejauh mana tingkat keberhasilan penanganan wabah ini. 

     Lebih eksplisitnya, negara yang lebih menguatkan kemandirian domestik adalah negara yang cenderung menjalankan pendekatan realisme. Mereka percaya bahwa sistem internasional adalah sistem yang anarki di mana tidak ada satu institusipun yang berhak menjadi mercusuar dalam mengatur kehidupan bernegara. Sehingga, menjadi sebuah kedaulatan yang utuh bagi sebuah negara untuk mengatur, mengambil keputusan, dan melakukan langkah-langkah di setiap sendi kehidupannya. Terlebih, pemikir realisme percaya bahwa sifat rakus, tamak, dan egois adalah the nature of human. Sehingga, di setiap situasi yang sulit, human natureakan lebih percaya diri untuk mengeluarkan bentuk aslinya. Pada akhirnya, mempercayai kapabilitas negaranya sendiri dengan penguatan nilai-nilai nasionalisme adalah kebijakan yang dipercayai dapat menanggulangi permasalahan COVID-19 di wilayah yurisdiksinya.

     Dengan mengacu kepada hal di atas, dalam sebuah karya tulisnya, Stephen M. Walt menguatkan bahwa post-pandemic eraakan menjadikan the world become less open, prosperous, and free. Menurutnya, hal ini adalah sebuah resultan dari pengamatan sejauh pandemi ini berlangsung. Negara dengan indeks ketahanan nasional yang tinggi dapat mengatasi wabah ini dengan mandiri. Sebut saja Singapura. Semua mata tertuju pada negara kecil yang terletak di Asia Tenggara ini tentang bagaimana kehebatannya dalam menanggulangi wabah COVID-19 dengan Zero Death. Indeks ketahanan pangannya nomor 1 di dunia. Begitu pula dengan indeks order and security. Kemandirian Singapura dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan nasional, menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti ketahanan pangan, human capitalorder and security indexmenjadi hal penting yang dapat menentukan kemampuan sebuah negara dalam menghadapi situasi krisis, seperti sekarang ini. Hal yang sama juga terjadi pada Korea Selatan dan China. 

     Yuval Harari dengan artikelnya yang berjudul: “The World after Coronavirus”, mengatakan bahwa secara tidak langsung, perilaku manusia yang terbiasa patuh dan tertib selama masa lockdownatau kebijakan pemerintah yang bersangkutan dengan pembatasan dan atau pengawasan, akan membawa perubahan pada sikap masyarakat sipil dalam bernegara. Warga negara akan merasakan munculnya sense of belonging. Mereka juga akan belajar tentang kesadaran bahwa setiap tingkah lakunya akan memberikan dampak terhadap sekelilingnya. 

     Tetapi, dalam karya tulisnya, Harari menekankan bahwa ada satu pembelajaran yang dapat diambil selama peperangan melawan pandemic ini tentang bagaimana pentingnya Global Cooperation. Bertentangan dengan prinsip realisme, Global Cooperationadalah produk dari pemikiran liberalisme. Dia mengibaratkan, “apa yang ditemukan oleh Tiongkok pada pagi hari, akan sangat berguna bagi Itali pada sore harinya”. Implikasi Global Cooperationyang dititikberatkan oleh Harari adalah tentang pertukaran informasi, kolaborasi sains dan riset, serta capacity buildingyang nyatanya telah banyak membantu sebagian negara dalam perjuangannya melawan COVID-19. Dia meyakini, kebijakan ini tidak serta merta dapat menyelamatkan satu negara, tapi juga akan mempertahankan eksistensi manusia di muka bumi.

     Pada akhirnya, saya meyakini kedua-dua nilai tersebut adalah memiliki sisi positif masing-masing. Tetapi, belajar dari sekian banyak kejadian, bahwasannya nationalismand global cooperation (globalisasi) adalah dikotomi abadi. Setelah sekian banyak krisis, bencana alam lintas negara, dan situasi genting lainnya, setiap negara tetap pada prinsipnya masing-masing. Walaupun beberapa ada yang berusaha menjadipseudo-liberalist, global cooperation in surface yet reinforcing nationalism in substance. Lalu, bagaimanakah sistem politik internasional di masa post-pandemic era? Semoga, para aktor yang ada di panggung politik internasional akan menunjukkan nilai-nilai rasionalnya dalam terus menjunjung tinggi keselamatan manusia dan menghilangkan bias politik dalam dilemma utilitarianisme. 

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply