PPI MALAYSIA

Emansipasi Kini

Published by Divisi Komunikasi dan Informasi on

Emansipasi Kini

Website dan Jurnalistik, Divisi Komunikasi dan Informasi PPI Malaysia 2019/2020

     Setiap tanggal 21 April, Indonesia merayakan hari emansipasinya kepada ibu-ibu bangsa. Namun, kita kerap kali menatap di persimpangan jalan dengan interpretasi ambigu terhadap emansipasi di tiap-tiap kepala. Nyatanya nilai dan perayaan hari ke-21 bulan April tersebut berangsur-angsur semakin tidak berfondasi dan sekadar acara seremonial tahunan saja.

     Sedikit menoleh ke belakang, siapa sih yang tidak tertegun dengan perjuangan srikandi-srikandi Indonesia di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia? Baik Cut Nyak Dien maupun Martha Christina Tiahahu yang secara langsung menjelma ksatria di Medan tempur melawan penjajah, hingga Fatmawati Soekarno, istri proklamator yang menjahit Sang Saka Merah Putih ketika akan dikibarkan sesaat setelah dibacakannya proklamasi. Semua perjuangan jelas memberikan nilai yang tak terhingga harganya. Tak terkecuali juga perjuangan tokoh yang hari kelahirannya dirayakan atas nama dirinya sendiri, Raden Ajeng Kartini.

     Kita berkenalan dengan Kartini bukan melalui dongeng legendaris nan ksatria di tengah-tengah perang puputan maupun perwujudan heroik lainnya. Ibu kita, Kartini, berbeda. Kita mengenal sosok ini melalui kesederhanaan aksara dan surat penuh makna yang nantinya memberi nyawa terhadap nilai feminisme dan kesetaraan gender di Indonesia. Dengan semangat tersebut termanifestasikanlah sekolah wanita yang salah satu tujuannya adalah memajukan kondisi sosial perempuan-perempuan Nusantara era itu. Kita semua sudah pernah belajar di ruang-ruang kelas sewaktu menimba pendidikan di masa putih-merah hingga putih abu-abu tentang Kartini, yang mungkin kita belum pahami adalah bagaimana kita merawat dan meneruskan jihad Kartini terhadap kesetaraan gender dan pengadaan keadilan sosial bagi seluruh perempuan Indonesia.

     Habis Gelap Terbitlah Terang, judul buku kumpulan surat-surat Tuan Putri tanah Jawa yang sangat melukiskan keadaan yang selalu perjuangkan. Kini situasi telah banyak berubah, perempuan kini tak selalunya menjadi penanggung jawab tunggal semua urusan rumah, dapur dan ranjang. Gerbang kesempatan telah dibuka selebar-lebarnya untuk semua anak bangsa terlepas dari gender dalam banyak aspek. Meski begitu, masih banyak catatan jika kita bicara emansipasi di waktu-waktu kini. Nilai emansipasi yang fondasinya adalah kesetaraan kini sukar diwujudkan dalam isu-isu umum seperti nyatanya perbedaan gaji yang signifikan antara kedua gender dan pengesanan pertama terhadap pekerja wanita. Maraknya pelumrahan pelecehan dan objektifikasi perempuan di masyarakat pun tidak jarang kita dengear menghiasi jendela-jendela berita maupun berbagai kanal dan linimasa media sosial.

     Faktor budaya yang mengikat dan telah mengakar dari pemikiran-pemikiran konservatif memperlambat proses pembangunan kesadaran masyarakat setara secara gender. Tidak bermaksud menggeneralisir, namun masih banyak yang meremehkan wantia dalam mengambil peran kepemimpinan di banyak posisi strategis. Masih banyak organisasi yang terjebak dalam pemikiran sempit patriarki dan selalunya menyudutkan hawa dalam posisi yang subordinatif dan inferior.

     Kemudian selanjutnya aspek yang harus kita perhatikan dalam membaca isu emansipasi dalam konteks kekinian adalah bagaimana membaca agen-agen sosial memberikan nilai kepada isu tersesbut. Sebagaimana kita tahu, isu ini adalah isu yang wujud adanya, bukan sekedar omong kosong influencer dan bahasan maya warganet. Perwujudan solidaritas perempuan yang menuntut kesetaraan hak belakangan tahun terakhir mencapai klimaksnya dengan aksi-aksi seperti woman march yang dilaksanakan di beberapa kota besar di Indonesia. Eksistensi solidaritas ini pun tidak serta-merta muncul secara tiba-tiba. Konstelasi dan kombinasi dari beberapa kejadian yang memang memuakkan seperti meningkatnya tingkat pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia berandil besar menjadi pelatuk dan landasan bagi mereka.

     Namun bagaimanapun juga, banyak yang merasa gagasan yang ingin coba disampaikan para feminis yang turun ke jalan ini tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Bahkan kenyataannya tidak sedikit juga perempuan yang merasa nilai yang diperjuangkan sudah sangat melenceng dari pemaknaan sesungguhnya. Banyak yang menilai nilai-nilai feminis ini terlalu ekstrem dan sekadar pembuat sensasi karena adanya kelompok aji mumpung seperti LGBT yang mengikuti parade-parade ini.

     Akhir aksara, kita sama-sama tidak bisa menafikan bahwasannya fondasi yang dulu diletakkan oleh Ibu Kartini belum menjadi satu bangunan yang kokoh dan megah. Sebagai bangsa yang sering khilaf, kita masih perlu menyempurnakan dan kembali memaknai emansipasi seabgai salah satu hak azasi. Tentang ideologi, yang ada di masing-masing kepala memang berbeda, tapi satu yang bisa kita sepakati bersama adalah sebab Kartini bisa menjadi Kartini bukan karena belatinya ataupun karena paras ban busananya. Lebih dari itu, Kartini dimahkotai gelaran Kartini karena aksara dan aksi nyatanya dalam memajukan kehidupan dan status sosial perempuan melalui kegiatan literasi dan pendidikan. Semoga perayaan Kartini di masa-masa yang akan datang dapat dimaknai dengan cara yang sama dengan Kartini. Melawan belenggu dengan Aksara.


0 Comments

Leave a Reply