PPI MALAYSIA

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Keberlangsungan Industri Halal Nasional

Published by Kajian Strategis PPI Malaysia on

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Keberlangsungan Industri Halal Nasional

Dimas Fadhillah Ramadhan
Anggota Penelitian dan Kajian Strategis  PPI Malaysia 2020

     Merebaknya wabah virus corona telah memorak-porandakan seluruh aspek kehidupan kita. Di sisi lain, virus ini juga mengubah gaya hidup masyarakat menjadi “masyarakat serba daring” yang saling bertemu dan melakukan aktivitas melalui dunia maya. Sektor utama yang paling terpukul oleh adanya wabah virus ini merupakan sektor kesehatan dan sektor perekonomian. Di lansir dari berbagai media lokal maupun internasional, lebih dari dua juta manusia telah terinfeksi COVID-19 (per tanggal 18 April). Di indonesia sendiri, dari data yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan (per tanggal 18 April), angkanya sudah mencapai 6248 jiwa yang terinfeksi, disertai dengan total kematian sebanyak 535 jiwa (9% tingkat kematian). Tingkat kematian tersebut merupakan tingkat kematian yang terbesar di wilayah Asia Tenggara, sehingga menjadi tanggung jawab yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat dalam menangani pandemi virus ini.

     Dari sektor ekonomi, pertumbuhan ekonomi dari sebelum adanya pandemi ini dapat dikatakan kurang baik. Berdasarkan data yang dikutip dari pemerintah Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 mencapai 5,08%, cukup meleset dari target pemerintah yaitu 5,30%. Meskipun dari segi pertumbuhan ekonomi negara kita masih lebih baik dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya, Indonesia masih harus menghadapi masalah kenaikkan harga di beberapa sektor, atau yang biasa disebut dengan inflasi. Inflasi merupakan fenomena menurunnya nilai uang terhadap harga barang di suatu negara. Uang Rp100.000 yang dahulu dianggap luar biasa bernilai, mungkin sekarang hanya mampu dibelanjakan beberapa barang saja, yang tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Pada awal tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di sekitar angka 5% dengan harapan target tersebut dapat terpenuhi. Pemerintah berharap demikian karena melihat perkembangan ekonomi di berbagai negara lain yang sedang mengalami gejolak perekonomian di tengah wabah COVID-19. Sebelum Indonesia mengumumkan kasus pertama dan WHO menyatakan status pandemi, pemerintah cukup yakin wabah ini tidak akan terlalu berdampak dengan perekonomian negara kita. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada saat itu, pemerintah memberikan anggaran untuk mendongkrak sektor pariwisata di Indonesia. Stimulus sektor pariwisata disalurkan di beberapa maskapai penerbagan untuk memberikan diskon penerbangan, baik penerbangan domestik maupun internasional.

     Di samping sektor pariwisata, salah satu sektor yang menjadi concern, terutama pada masa pemerintahan Jokowi-Ma’ruf adalah industri halal. Industri halal merupakan industri yang berbasiskan hukum dan syariat islam. Dengan kata kunci “halal” itu sendiri, yang berarti “boleh, bermanfaaat, baik, dan menyehatkan”, industri halal menerapkan prinsip alashlu fil asy-yaa-i alibahah” yang berarti asal dari segala sesuatu itu mubah (boleh), serta tetap memperbolehkan segala sesuatu sampai terdapat dalil yang melarangnya. Sejatinya, dalam implementasinya di berbagai sektor, industri halal menekankan adanya “dekontaminasi” dari suatu hal yang baik dari barang-barang yang dianggap najis ataupun mengandungi zat berbahaya bagi kesehatan tubuh serta membawa kerusakan (mudharat). Kemudian pada bidang lingkupnya, indutri halal mempunyai banyak sektor: makanan dan minuman, logistik, kosmetik, perjalanan, jasa, dan lain sebagainya. Industri halal sangat berkaitan dengan ekonomi karena sejatinya sektor industri merupakan salah satu penopang penting dalam berdirinya perekonomian. Sebenarnya ruang lingkup industri halal hampir sama dengan ekonomi syariah, yang membedakannya adalah fokus industri halal pada teori serta prakter dalam pelaksanaanya, tidak hanya mengandalkan teori saja.

     Salah satu sektor industri halal yang sangat terdampak dengan adanya pandemi COVID-19 adalah sektor tour and travel atau yang sering kita sebut dengan biro perjalanan. Industri ini dirasa mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifikan. Bahkan ada beberapa biro perjalanan yang mengalami kerugian karena terlanjur membeli tiket pesawat dan tiket tempat wisata yang akhirnya terpaksa hangus begitu saja. Di sisi lain, mereka pasti harus mengganti atau refund uang yang diberikan oleh pelanggan.  Hampir seluruh biro perjalanan membatalkan perjalanan mereka karena penutupan akses masuk di berbagai tempat wisata serta negara. Di sisi lain, di saat banyak pegiat biro perjalanan yang tidak bekerja, akan muncul fenomena pengangguran baru di tengah pandemi COVID-19 sampai berakhirnya pandemi ini yang tidak kita ketahui kapan waktunya. Dalam mendekati bulan suci Ramadhan, biro perjalanan umumnya merupakan sektor yang paling sibuk dan memiliki keuntungan yang cukup besar. Target mereka biasanya menawarkan perjalanan ibadah ke tanah suci mekkah dan madinah. Hal ini sangat menjadi daya tarik masyarakat karena menjelang bulan yang suci dan mulia, masyarakat ingin memanfaatkan momen ini untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan mungkin tidak terlalu memperhatikan biaya yang perlu dikeluarkan (permintaan dari perjalanan suci menjelang bulan Ramadhan cukup inelastis). Tetapi ketika adanya pandemi ini,  seluruh kegiatan ibadah yang dijalankan oleh semua agama hanya boleh dilakukan di rumah dan masyarakat harus mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut.  Tentu akan menjadi sebuah keuntungan yang besar bagi biro perjalanan apabila pandemi ini segera berakhir. Hal ini terjadi karena semua orang pasti akan melepaskan rasa bosan mereka selama beberapa bulan berada di rumah karena adanya pandemi ini dan akan melakukan kegiatan refreshing ke berbagai tempat wisata serta melakukan aktivitas ibadah di barbagai tempat-tempat ibadah baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri.

     Selanjutnya dari sektor makanan dan minuman atau Food and Beverage, sektor ini umumnya mencakup restoran serta toko-toko yang menjual makanan atau minuman (retailing). Sebagian besar dari industri halal, yaitu 70%, mengarah ke dalam sektor makanan dan minuman. Dari segi makanan, yang notabene memiliki  label “halal” atau standar halal dalam pengelolaannya, memiliki kesempatan untuk berkembang lebih besar di tengah pandemi dengan melakukan berbagai inovasi. Namun perlu dicatat bahwa hal ini dikhususkan kepada negara yang tidak menerapkan sistem lockdown sebagai bentuk penanganan kasus COVID-19. Di negara yang menggunakan sistem lockdown, seluruh perusahaan baik dari ukuran makro hingga mikro (kecuali pada sektor suplai logistic) ditutup atau dinon-aktifkan operasinya secara sementara, berbeda halnya dengan negara yang tidak menggunakan sistem lockdown total atau hanya menggunakan sistem social distancing. Ketika pandemi ini berlangsung, permintaan akan  barang esensial atau yang sering kita kenal sebagai barang habis pakai seperti makanan, minuman, masker, dan bukan barang-barang kebutuhan sekunder akan meningkat secara tajam. Sepatutnya hal ini disadari oleh para pelaku industri, tak terkecuali perusahaan-perusahaan makanan dalam skala besar (pabrik) yang sedianya memproduksi berbagai produk-produk makanan yang halal. Di Indonesia hampir semua tempat produksi makanan mempunyai sertifikasi halal yang sudah pasti sistem produksinya berjalan dengan standar mutu yang tinggi dan aman untuk masyarakat. Dari segi pemasaran, pabrik-pabrik ini mungkin dapat menambah jumlah barang yang beredar di kalangan masyarakat. Hal ini sebenarnya bisa meningkatkan target penjualan mereka dan menggerakkan perekonomian terutama untuk masyarakat kelas menengah ke bawah dengan menjadikan mereka sebagai agen-agen ataupun re-seller. Hal ini akan membawa keuntungan bagi masyarakat karena masyarakat dapat terjamin kebutuhan pokoknya tanpa adanya rasa takut jika tidak ada stok barang, yang umumnya menyebabkan panic buying. Yang terpenting dari semua ini adalah menghindari adanya mafia atau penimbunan bahan pokok oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk mencari keuntungan pribadi. Ditambah lagi dengan memasuki fase bulan suci Ramadhan yang umumnya terjadi kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang sangat memukul kalangan keluarga menengah kebawah. Penjaminan kebutuhan barang pokok oleh pemerintah sekiranya mampu menstabilkan harga-harga kebutuhan yang ada di pasar. Sepatutntya, ini yang menjadi dasar implementasi industri halal ketika situasi saat ini dengan memikirkan kemaslahatan umat, salah satunya mengambil dari maqasid syariah yaitu menjaga nyawa, jiwa dan harta.

     Kemudian, para pelaku usaha halal yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman di kalangan menengah ke bawah sebenarnya banyak mengeluhkan kondisi usahanya yang lesu dan beban perusahaan yang tinggi. Sepatutnya para pengusaha dapat membuat terobosan baru, salah satunya dengan membentuk sistem pengiriman atau metode delivery, yaitu pengantaran barang  ke rumah-rumah pelanggan dengan disertai sistem operasional yang baik. Hal ini didukung juga dengan kepercayaan masyarakat serta kesadaran masyarakat tentang produk halal sangat tinggi di Indonesia dan bahkan dipercayai kredibilitasnya oleh berbagai masyarakat dunia karena produk halal juga merupakan produk yang dapat diterima oleh seluruh golongan, ras, suku dan agama.

     Selanjutnya, dari sektor fesyen yang berbasiskan style syariah dan modern serta sektor komestik halal. Sektor berikut merupakan sektor yang juga terpukul di tengah pandemi ini. Masyarakat saat ini lebih memilih barang-barang yang berupa esensial atau kebutuhan primer ketimbang memilih barang-barang yang dianggap sebagai kebutuhan sekunder. Hampir serupa dengan kasus yang dialami oleh para biro perjalanan, sektor ini merupakan sektor yang mengalami penurunan pendapatan secara cukup signifikan. Tetapi dalam hal ini, sebenarnya adanya pandemi ini dapat menjadi kesempatan bagi pengusaha untuk merubah sistem pemasaran dari sistem jualan on the spot (membuka lapak atau toko secara fisik) menjadi sistem pemasaran digital atau sistem daring melalui berbagai platform yang tersedia saat ini. Walaupun mungkin dirasa tidak dapat menghasilkan nominal pendapatan penjualan yang normal seperti sebelum pandemi, usaha untuk mendigitalisasi usaha merupakan ide yang bagus di tengah kondisi pandemi ini. Minimal, usaha ini membuat perusahaan tersebut tetap bertahan dan dapat menjalankan usaha dengan baik di tengah kondisi yang sulit. Kemudian, ketika pandemi ini sudah berakhir, hal ini sebenarnya juga dapat menguntungkan usaha tersebut dengan tersedianya dua bentuk lapak baik lapak daring (online) maupun lapak luring (on the spot).

     Secara garis besar, pandemi COVID-19 telah memukul berbagai sektor ekonomi, tak terkecuali pada industri halal yang berorientasikan dan bermuara pada lingkup ekonomi. Ketika semuanya berjalan dengan normal, akan ada peningkatan-peningkatan dalam bidang industri yang ada di kelas makro ataupun di kelas mikro. Seluruh masyarakat di dunia ingin pandemi ini segera berakhir, dan hal ini memerlukan adanya kerjasama baik dari pemerintah serta berbagai pihak di lapisan masyarakat agar kita dapat bersama-sama menanggulangi pandemi ini. Saatnya bahu- membahu, lupakan kepentingan-kepentingan politik yang membuat penanggulangan pandemi ini tidak berjalan efektif. Di sisi lain, pandemi ini adalah salah satu momentum kita sebagai warga negara yang baik agar dapat saling membantu sesama dengan memberikan pertolongan dalam bentuk apapun bagi penduduk sekitar yang mengalami kesulitan finansial akibat adanya pandemi ini karena kehilangan mata pencaharian. Ketika semua dapat berkolaborasi dengan baik, diharapkan keadaan akan kembali normal sehingga semua dapat beraktivitas seperti biasa dan berharap seluruh industri, tanpa terkecuali industri halal semakin meningkat pertumbuhannya, agar pertumbuhan ekonomi di negara kita mampu bertumbuh dengan baik sesuai apa yang diinginkan pemerintah dan kita semua.


Referensi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2020, April). Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Diambil kembali dari covid19: https://www.covid19.go.id/

Badan Pusat Statistik. (2020, April). Press-Release. Diambil kembali dari Badan Pusat Statistik: bps.go.id/pressrelease/2020/02/05/1755/ekonomi-indonesia

Faqir, A. A. (2020, Maret). Liputan6 Bisnis. Diambil kembali dari Liputan6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/4200176/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2020-diprediksi-dibawah-5-persen

Syarizka, D. (2020, Maret). Industry Insights. Diambil kembali dari Tech in Asia: https://id.techinasia.com/dampak-covid-19-online-travel-agent

Worldometer. (2020, April). Coronavirus. Diambil kembali dari Worldometer: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply