PPI MALAYSIA

20 Mei Harus Menjadi Suluh Perjuangan

Published by Divisi Komunikasi dan Informasi on

Oleh: Mansurni Abadi (Ketua Divisi Intelektual PPI UKM Dan Anggota Penkastrat PPIM)

Kalian yang muda, harus berani biarpun akan mengambil jalan yang berbeda, tetaplah Istiqomah dijalan perjuangan itu dan jadilah pribadi yang jadi petunjuk bukan sekedar mengikut telunjuk (Memoar Dr Wahidin Sudirohusudo, pendiri Budi Utomo).

Tak terasa sudah 1 abad lebih kita merayakan kebangkitan nasional, yang kalau dirunut ke belakang, tanggal tersebut adalah tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo (BO) yang awal mulanya digagas oleh pelajar-pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran, karena ide dari Dr. Wahidin Sudiro Husodo yang juga merupakan alumni Stovia, saat dia mengunjungi rekan-rekannya pada tahun 1907 (Muh. Hatta, 2010), saat itu beliau mengusulkan agar mahasiswa Stovia berani untuk mendirikan organisasi yang dapat memajukan derajat bangsanya.

Ide Dr. Wahidin Sudiro Husodo ini kemudian diterima dan dikembangkan oleh Sutomo dan kawan-kawannya, lalu mereka mendirikan organisasi Budi Utomo di Jakarta (Batavia) pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memajukan pengajaran, industri, peternakan, pertanian dan perdagangan serta menghidupkan kembali kebudayaan bangsa sendiri.

Budi Utomo dan pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu program penting yang selalu di jalankan Budi Utomo diawal pendiriannya, mereka mengampanyekan pentingnya pendidikan dibawah panji deharmonische ontwikkeling van land en volk van Jawa en Madura (kemajuan yang harmoni untuk rakyat di Jawa dan Madura), yang direncanakan dengan baik oleh Dr.Wahidin Sedirohusodo, yang kala itu prihatin dengan sedikitnya jumlah kaum terpelajar di kalangan bangsa sendiri, tentunya ini menjadi tantangan untuk mengawal sekaligus menjalankan politik etis yang sebenarnya bisa digunakan untuk menaikkan harga diri sebagai orang Indonesia (Wahidin,1910).

Gerakan yang dilakukan Budi Utomo kemudian mendapatkan respons positif dari rakyat Indonesia terutama mereka yang tidak memiliki akses kependidikan karena mahalnya biaya, meskipun di satu sisi para penggeraknya yang merupakan kalangan priayi harus bermusuhan dengan sesama priayi lainnya, terutama mereka yang sudah sangat nyaman dengan status quo yang diberikan belanda.

Sejarah kemudian mencatat, apa yang dilakukan Budi Utomo kala itu menandai era perlawanan baru oleh bangsa Indonesia dari yang sebelumnya fisik ke arah kooperatif namun tetap idealis dan memiliki basis intelektual yang terorganisir. Namun seiring berjalan waktu, ada anggapan dari banyak pihak terkait pembatasan wilayah juang yang hanya mencakup Jawa dan Madura yang dinilai sangat sempit dan tidak mencerminkan semangat kebangsaan yang terus tumbuh seiring dengan gelombang nasionalisme kebangsaan pada tahun 1928 yang kemudian mencetuskan sumpah pemuda, akhirnya pada tahun yang sama Budi Utomo mengubah dasar perjuangannya menjadi ikut berusaha memajukan cita-cita persatuan Indonesia.

Budi Utomo sendiri pada akhirnya bubar lewat proses fusi di tahun 1935 yang kemudian membentuk partai Indonesia raya (parinda). Meskipun banyak kritik yang dialamatkan padanya , organisasi ini tetap memberikan kontribusi pada proses perintisan kemerdekaan Indonesia setelahnya. Apalagi mereka telah melakukan eksperimen perlawanan yang lebih elegan yaitu dalam bentuk intelektualitas yang terorganisir dan bersifat kooperatif namun berpendirian yang idealis.

Qua vadis kebangkitan dan peran intelektual muda

Sudah hampir 2 tahun, pandemi COVID-19 tak kunjung usai, jangkitan di Indonesia pun bukannya semakin menurun malah meningkat setiap harinya. Bahkan dikabarkan sistem kesehatan kita pun sudah kewalahan, belum lagi sudah banyak pekerja kesehatan kita yang Gugur.

Ironisnya ada golongan pemimpin yang malah berkhianat dengan rakyatnya sendiri dan pemerintah pun sibuk berkongkalikong dengan pihak-pihak oligarki lewat peraturan-peraturan yang diketuk dalam semalam dan akhirnya memancing kemarahan rakyat setelahnya.

Kondisi yang seperti ini pada akhirnya memaksa kita hidup dalam keterbatasan dan krisis multidimensional, yang kemudian menggiring mental kita ditengah keterputusasaan dan ketidakpercayaan. langkah untuk bangkit harus kembali ringkih dan akhirnya kita pun tertatih. Namun, kita tidak boleh terus-menerus meratapi nasib, momen kebangkitan nasional harus menjadi titik balik untuk menumbuhkan keoptimisan di tengah-tengah pandemi COVID-19.

Tentunya intelektual muda sangat memegang peranan dalam menguatkan sekaligus menjaga semangat kebangkitan nasional ini, Karena ditangan merekalah perubahan yang lebih baik akan tercipta tapi perubahan tidak muncul dalam semalam, perlu adanya keseriusan untuk mengetahui konteks dan idealisme kebangkitan nasional agar kita paham ke arah mana kebangkitan nasional bisa terus kita bina semangatnya, apalagi ditengah-tengah era teknologi saat ini.

Pemahaman akan konteks dan idealisme ini penting untuk menghindari kesalahpahaman kita dalam memahami kebangkitan nasional yang pada akhirnya hanya akan menjebak kita pada glorifikasi sejarah dan serangkaian acara formal semata tanpa adanya internalisasi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pembacaan kembali terhadap catatan-catatan sejarah tentang nilai-nilai yang dibawa oleh para pencetus kebangkitan nasional untuk kemudian kita koneksikan dengan kebutuhan zaman, agar kemudian kita menjadi intelektual pembebas.

Kita yang saat ini tengah berdiaspora baik di Malaysia maupun seantero dunia, memang harus menjadi intelektual-intelektual pembebas, karena kita mempunyai privilege yang sama seperti para pendiri Budi Oetomo, pertama kita sama-sama merasakan akses pendidikan yang berkualitas dan kedua, kita memiliki kelenggakapan kalau hendak kita cari untuk merubah kondisi bangsa yang tentu saja dimulai dari diri sendiri dahulu. Tantangan terbesar sekarang ini bukan pada penjajahan asing tetapi oleh bangsa sendiri, dan arah kita kedepannya bergantung pada pilihan kita apakah kita hendak memihak hati nurani atau kita menjadi bagian dari penjajah-penjajah baru.

Oleh karena itu, menjadi catatan penting bagi sebagai intelektual tidak hanya menceritakan kembali keluhan-keluhan lama yang diperbuat oleh generasi terdahulu sembari mengutuk kondisi sekarang berdasarkan ego dari kelompok, tapi harus lebih objektif sekaligus terarah dalam berpikir dan berbuat bukan semata-mata untuk kepentingan tapi murni karena kecintaan terhadap negeri yang selalu kita teriak-teriakan dengan slogan harga mati.

Memang kita perlu mencoba untuk menjadi pribadi yang kritis tapi terarah, idealis tapi tidak buta, dan agamis tapi visioner dan humanis agar kemudian kita menjadi intelektual yang memiliki perasaan akan tanggung jawab bersama untuk memperbaiki masyarakat , menjaring hasrat dan aspirasi mereka, mengungkapkan harapan, gelisah, dan resah masyarakatnya serta berusaha untuk menelaah, merumuskan, dan memasukkan ide-ide utama atau alternatif bagi memecahkan permasalahan didepan mata mereka.

Tidak lupa juga, kita pun harus terus merawat semangat nasionalisme yang berperikemanusiaan yang mengarahkan kita untuk memiliki cita-cita dan tujuan nyata dalam mempertahankan negara, baik dari internal maupun eksternal. Disini perlu saya tekankan, dalam mempertahankan negara tercinta, bukan berarti kita harus menjadi pemimpin politik, tapi bukan berarti kita tidak membutuhkan politik hanya saja kemasan berpolitiknya yang berbeda yang tidak tersekat pada kelompok- kelompok apalagi kepentingan tertentu.

Mungkin pandangan ini terlalu idealis tapi inilah posisi yang bisa kita lakukan ditengah jual beli kekuasaan yang ironisnya sebagai besarnya, malah bukan untuk Indonesia yang lebih baik , tapi tidak salah juga jika kita ingin dan bisa ambil bagian didalamnya hanya saja kita perlu memiliki kerangka pemikiran yang bagus dan terarah tentang perubahan dan mampu mempertahankan prinsip ditengah kedangkalan berpikir dan berbuat.

Maka yang terpenting daripada itu yang bisa kita lakukan sekarang selagi masih berada ditanah perantuan, adalah harus menjadi pribadi yang selalu siap membela tanah air, dan melestarikan budaya sendiri. Kita harus meningkatkan lagi pemahaman terhadap nilai kebangkitan nasional, salah satunya dengan mengutamakan kepentingan bangsa sendiri diatas kepentingan bangsa lain dan tidak membedakan antara satu dan lainnya, sesuai dengan pilar kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika”, hindari sikap inferior karena kita belajar jauh bukan untuk memiliki mental budak, abdi, atau bahkan minder tapi penerus yang punya sikap, kuat, dan idealis yang sesuai dengan garis perjuangan yang telah dituliskan oleh para generasi terdahulu.

Referensi

Mohammad Hatta, Permulaan Pergerakan Nasional, (Jakarta: Yayasan Idaya, 1980) Catatan-catatan Wahidin Sudiro Husodo dalam tabloid lama Ratnagoemilah.

Categories: Kastrat

0 Comments

Leave a Reply